Cuti

Cuti Umum

Cuti adalah waktu libur yang diberikan oleh pihak perusahaan, yang bisa digunakan untuk kepentingan apapun dengan tujuan apapun. Dengan mengambil cuti, maka Anggota boleh untuk tidak berangkat bekerja atau tidak melakukan aktivitas kerja. Dalam section ini, akan dibahas mengenai ketentuan cuti dan ketentuan ijin dalam pengambilan cuti.

KETENTUAN

UMUM

  • Cuti diberikan apabila Anggota sudah melakukan aktivitas kerja selama 1 tahun.
  • Pengajuan: H-1 s/d H-5.
    • Contoh: Anda berencana melakukan cuti di hari Jumat. Anda harus mengajukan cuti ini setidaknya di hari kamis. Jangan dihari jumat nya tiba- tiba Anda meminta cuti. Anda juga boleh mengajukan di hari Rabu, Selasa atau Senin. Yang terpenting, maksimal H-1 harus di ajukan.
  • Jenis cuti yang disetujui: Semua di setujui. Liburan, bepergian, dll.
  • Durasi Maksimal: 7 Hari/ Bln.
  • Ijin cuti menggunakan prosedur: HRD: Cuti- V.02 [PK.USR]
  • Pihak Perusahaan berhak menolak permohonan cuti yang diajukan, apabila terdapat suatu pekerjaan urgent yang harus dikerjakan oleh Anggota tersebut.

KONSEKUENSI

  • Cuti yang tidak disetujui akan dianggap tidak masuk kerja (melakukan ketidak hadiran kerja).
  • Lebih dari jumlah maksimal yang ditetapkan, akan dianggap tidak masuk kerja tanpa ijin.
  • Cuti yang tidak sesuai prosedur, akan menyebabkan cuti tidak di setujui.

Changelog

 

Cuti Ketidakmampuan Bekerja

Definisi Khusus: Cuti Ketidak Mampuan bekerja adalah Cuti atau waktu istirahat yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada Anggota karena ketidakmampuan Anggota yang dikarenakan tidak bisa memenuhi target ketika menjalankan aktivitas kerja. Target yang tidak terpenuhi bisa di dasarkan atas hasil ataupun Efisiensi Kerja. Cuti ketidak mampuan kerja hanya diberikan kepada Anggota yang mendapatkan gaji harian.

Target yang tidak terpenuhi, biasanya dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: [1]. Anggota tidak memahami prosedur kerja, [2]. Terjadi salah persepsi antara informasi yang dibaca/ diterima oleh Anggota, dengan Prosedur Kerja yang dituliskan, [3]. Peralatan yang dimiliki Anggota (spesifikasi laptop, adanya Mallware& virus, dll) tidak tepat/ tidak bisa digunakan untuk menjalankan prosedur kerja, [4]. Prosedur kerja salah dituliskan, atau dituliskan dengan tidak jelas, sehingga memunculkan beragam penafsiran.

KETETAPAN

  • Diberikan oleh Kepala Divisi. Mulai dari tanggal dimulainya cuti, hingga batas akhir cuti tersebut habis.
  • Setelah batas cuti habis, Kepala Divisi akan menanyakan apakah prosedur kerja tersebut sudah bisa dijalankan/ dilakukan/ di praktekan?.
  • Apabila Anggota sudah berhasil mengatasi kendala nya sebelum batas cuti nya habis: Anggota bisa meminta untuk langsung bekerja.
  • Apabila Anggota masih tidak bisa mengatasi kendala nya ketika batas cutinya habis, atau ketika dia mengatakan sanggup (telah bisa) menjalankan pekerjaan dengan baik, namun ternyata tidak bisa:
    • Anggota wajib untuk Melakukan cuti untuk menenangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya diluar jam kerja dengan keadaan yang lebih santai.
    • Anggota mendapatkan Surat Peringatan untuk alasan “Ketidakmampuan Bekerja”.

KONSEKUENSI

  • Tidak menerima gaji, dari waktu cuti tersebut.
  • Waktu kerja selama cuti tidak terhitung, yang berdampak pada penghitungan masa kerja 30 hari.

Changelog

Leave a Reply